Musim Kabut Asap di Palembang: Berkendara Pukul 4 Pagi Menghirup 8x Udara Pukul 3 Sore

Motorcycle rider stopped at a red light in pre-dawn haze season smoke, with Palembang PM2.5 readings
Jawaban singkat

Musim kabut asap di Indonesia mengikuti musim kemarau, yang biasanya berlangsung dari Juli sampai Oktober. Pada 2026, BMKG memperkirakan risiko kebakaran berlanjut sampai awal Oktober, dengan hujan yang datang terlambat dan singkat. Di Palembang, asap paling parah sebelum matahari terbit: pada 17 September, monitor kota itu mencatat 681.6 µg/m³ pada pukul 4 pagi dan 79.4 pada pukul 3 sore (BMKG via Antara, 2026).

Keluar dari gang rumahmu di Palembang sebelum subuh bulan ini, dan lampu jalan tampak berlingkar cahaya karena asap. Shift ojol sudah dimulai, dan udaranya belum juga bersih.

Pada jam itu, 17 September, stasiun Musi 2 milik BMKG di Palembang mencatat PM2.5 sebesar 681.6 µg/m³. Pada pukul 3 sore angkanya 79.4 (BMKG via Antara, 2026). Kota yang sama, hari yang sama, asap yang sama. Satu-satunya perbedaan adalah jamnya.

Poin penting

  • Pada 17 September 2026, monitor Musi 2 di Palembang mencatat PM2.5 sebesar 681.6 µg/m³ pada pukul 4 pagi dan 79.4 µg/m³ pada pukul 3 sore, jadi udara subuh 8.6 kali lebih pekat daripada udara sore (BMKG via Antara, 2026).
  • Angka pukul 4 pagi itu 45 kali pedoman PM2.5 24 jam WHO sebesar 15 µg/m³ (WHO, 2021).
  • Masker yang dijual bebas dan diuji di wajah sungguhan membocorkan 3 sampai 68% partikel luar ke dalam, dan hanya satu dari empat yang rata-ratanya di bawah 10% (Cherrie et al., 2018).
  • Indonesia mencatat 174,694 kasus infeksi saluran pernapasan akut di tujuh provinsi terdampak kabut asap dari Agustus sampai 21 September 2026 (Ministry of Health via Malay Mail, 2026).

Riset di balik tulisan ini

Pengukuran yang ditinjau sejawat yang menjadi dasar tulisan ini. Setiap kartu menjelaskan apa yang diukur, apa yang ditemukan, dan apa yang tidak bisa disimpulkan darinya.

Kabut asap dan kesehatan pernapasan anak di Palembang

Haryanto et al. (2026) · Annals of Global Health

Apa yang diukur
Sepuluh tahun (2011 sampai 2020) data udara bulanan BMKG di Palembang, dibandingkan dengan kasus infeksi saluran pernapasan dan pneumonia pada anak.
Apa yang ditemukan
366,632 kasus infeksi saluran pernapasan anak dan 27,574 kasus pneumonia anak, dengan kenaikan PM2.5 memprediksi lebih banyak pneumonia.
Yang tidak bisa disimpulkan
Data bulanan tingkat kota, jadi tidak ada paparan pribadi dan tidak ada angka untuk pengendara.
Baca studinya (DOI)

Apa isi asap gambut Sumatra

See et al. (2007) · Environmental Science & Technology

Apa yang diukur
Massa PM2.5, jumlah partikel, dan kimianya di tiga lokasi di Sumatra selama satu episode kebakaran gambut: di dekat api, di kawasan semipedesaan, dan di kota yang searah angin.
Apa yang ditemukan
PM2.5 mencapai 1,600 µg/m³ di dekat api, sebagian besar berupa partikel karbon organik.
Yang tidak bisa disimpulkan
Hanya satu episode, dan angka puncaknya di dekat sumber api, bukan di kota.
Baca studinya (DOI)

Kenapa tahun kering terbakar begitu hebat

Field et al. (2016) · PNAS

Apa yang diukur
Catatan satelit tentang api dan asap, jarak pandang bandara jangka panjang, dan curah hujan musim kemarau untuk Sumatra dan Kalimantan.
Apa yang ditemukan
Kebakaran melonjak tajam begitu curah hujan turun di bawah sekitar 4 mm per hari. 2015 berada tepat di belakang 1997, bersama 1991 dan 1994, di antara episode terburuk yang pernah tercatat.
Yang tidak bisa disimpulkan
Skala regional tanpa data kesehatan, dan catatannya berakhir pada 2015.
Baca studinya (DOI)

Bagaimana masker yang dijual bebas bekerja di wajah sungguhan

Cherrie et al. (2018) · Occupational and Environmental Medicine

Apa yang diukur
Sembilan masker PM2.5 yang dibeli di Beijing. Empat di antaranya dipakai relawan di ruang uji berisi gas buang diesel, dalam posisi duduk dan bergerak, dengan sensor di dalam dan di luar masker.
Apa yang ditemukan
Kebocoran ke dalam berkisar dari 3 sampai 68% saat duduk. Hanya satu masker yang rata-ratanya di bawah 10%.
Yang tidak bisa disimpulkan
Gas buang diesel di laboratorium, bukan asap gambut, dan tidak ada yang memakai helm.
Baca studinya (DOI)

Seberapa besar masker mengurangi paparan asap

Kodros et al. (2021) · GeoHealth

Apa yang diukur
Model yang menggabungkan efisiensi filter masker, kerapatan, laju kebocoran, dan ukuran partikel, diuji pada satu musim kebakaran hutan di AS.
Apa yang ditemukan
Masker bedah mengurangi paparan dengan faktor 1.7. N95 dengan kebocoran 5% menguranginya lebih dari 14 kali.
Yang tidak bisa disimpulkan
Hasil pemodelan, bukan pengukuran pada pengendara, dan mengasumsikan masker selalu dipakai dengan benar.
Baca studinya (DOI)

Apa yang sebenarnya diukur oleh studi-studi itu

Mulai dari satu-satunya studi yang ditinjau sejawat yang dibangun di Palembang sendiri. Haryanto dan rekan mencocokkan sepuluh tahun data udara BMKG dengan catatan kesehatan anak. Mereka menghitung 366,632 kasus infeksi saluran pernapasan anak dan 27,574 kasus pneumonia anak dari 2011 sampai 2020 (Haryanto et al., 2026).

Mereka menggambarkan Palembang sebagai kota yang setiap tahun dilanda asap kebakaran lahan gambut. Dalam model mereka, kenaikan PM2.5 memprediksi lebih banyak pneumonia pada anak.

Apa isi asap itu? Satu tim lapangan mengambil sampel asap gambut Sumatra di tiga jarak dari api. Di dekat api, PM2.5 mencapai 1,600 µg/m³, dengan 170,000 partikel di setiap sentimeter kubik, dan sebagian besar massanya berupa karbon organik (See et al., 2007). Asap itu tetap menurunkan kualitas udara di kota yang searah angin.

Kenapa beberapa tahun jauh lebih parah, jawabannya ada pada curah hujan. Field dan rekan menemukan kebakaran di Sumatra dan Kalimantan naik tajam begitu hujan musim kemarau turun di bawah sekitar 4 mm per hari (Field et al., 2016). Mereka memperkirakan episode seperti ini akan kembali pada kekeringan berikutnya, biasanya di tahun El Niño.

Dampaknya dalam skala besar sangat berat. Model kebakaran 2015 menemukan 69 juta orang terus-menerus terpapar udara tidak sehat (Crippa et al., 2016). Studi selanjutnya menempatkan rata-rata korban asap kebakaran gambut sekitar 33,100 kematian dini orang dewasa per tahun di Sumatra dan Kalimantan (Hein et al., 2022).

Dua studi lain membahas masker yang dibagikan ke pengendara. Tim Cherrie menemukan masker yang dijual bebas membocorkan 3 sampai 68% ke dalam pada relawan (Cherrie et al., 2018). Model Kodros memberi masker bedah pengurangan paparan 1.7 kali (Kodros et al., 2021).

Pembersih udara helm clip-on Easi Breezi

Berkendara dengan udara tersaring

Menyaring PM2.5 kabut asap di setiap perjalanan

Easi Breezi dipasang di skuter atau motormu dan mengalirkan udara yang sudah disaring H11 HEPA ke dalam helm. Bertenaga motor, tanpa baterai, tanpa perlu diisi daya.

Lihat Easi BreeziCara kerjanya

Kapan musim kabut asap dimulai dan berakhir, dan kenapa 2026 berlangsung lama

Musim kemarau Indonesia biasanya berlangsung dari Juli sampai Oktober, dan saat itulah gambut terbakar (Malay Mail, 2026). BMKG pertama kali mencatat PM2.5 berkategori berbahaya di sebagian Palembang pada 24 Agustus tahun ini (ECHO via ReliefWeb, 2026).

Tanggal berakhirnya adalah hal yang terus ditanyakan pengendara. BMKG kini memperkirakan risiko kebakaran berlanjut sampai awal Oktober, dengan lebih dari 60% wilayah Indonesia memasuki musim hujan lebih lambat dari rata-rata (The Star, 2026).

Hujannya sendiri akan datang terlambat dan singkat. BMKG memperkirakan awal musim hujan pada November untuk 24.66% wilayah negeri ini dan Desember untuk 17.31%, didorong oleh El Niño kuat dan Indian Ocean Dipole positif (Tempo, 2026).

Kebakaran 2026 telah menghanguskan 895,657 hektare sejak Januari, 34% lebih banyak dari 2019 (The Guardian, 2026). Data kementerian kesehatan di tujuh provinsi terdampak kabut asap mencapai 174,694 kasus infeksi saluran pernapasan per 21 September, lebih dari 40,000 di antaranya balita, naik dari lebih dari 113,000 pada 9 September (Malay Mail, 2026). Itu kira-kira 5,000 kasus baru per hari selama 12 hari tersebut.

895,657hektare terbakar di Indonesia sejak Januari 2026
34%lebih parah dari musim 2019
174,694kasus infeksi saluran pernapasan, Agustus sampai 21 September

Di Palembang sendiri, wali kota melaporkan 9,313 kasus infeksi saluran pernapasan dalam 20 hari pertama bulan Agustus, sekitar 466 per hari (detikSumbagsel, 2026). Kota itu memindahkan sekolah dari PAUD sampai SMP ke pembelajaran daring mulai 9 September, tanpa tanggal berakhir (Antara Sumsel, 2026).

Kalau kamu ingin melihat tren jangka panjang di balik musim-musim ini, tulisan kami tentang apakah kabut asap makin parah setiap tahun membahasnya.

Udara subuh Palembang 8.6 kali lebih pekat daripada udara sorenya

Stasiun Musi 2 memakai metode beta attenuation, metode acuan standar untuk PM2.5. Pada Kamis 17 September, stasiun itu mencatat 681.6 µg/m³ pada pukul 04:00 WIB, di kategori hitam "berbahaya". Pada pukul 15:00 WIB, stasiun yang sama mencatat 79.4 µg/m³ (BMKG via Antara, 2026).

Bagi satu angka dengan yang lain, dan udara subuh membawa massa partikel halus 8.6 kali lebih banyak (BMKG via Antara, 2026). Dibanding pedoman 24 jam WHO sebesar 15 µg/m³, angka pukul 4 pagi adalah 45 kali batasnya dan angka pukul 3 sore 5.3 kali (WHO, 2021).

PM2.5 di Musi 2 Palembang, 17 September 2026 Grafik batang. Angka pukul 04:00 sebesar 681.6 mikrogram per meter kubik, angka pukul 15:00 sebesar 79.4, pedoman 24 jam WHO 15 ditampilkan sebagai garis putus-putus. 681.6 79.4 04:00 WIB 15:00 WIB Pedoman 24 jam WHO: 15 PM2.5, µg/m³. Sumber: stasiun BMKG Musi 2 via Antara, 18 Sep 2026
Monitor Musi 2 di Palembang mencatat PM2.5 sebesar 681.6 µg/m³ pada pukul 4 pagi dan 79.4 µg/m³ pada pukul 3 sore pada 17 September 2026, jadi pengendara subuh menghirup udara 8.6 kali lebih pekat daripada pengendara sore (BMKG via Antara, 2026).
PM2.5 di Musi 2 Palembang, 17 September 2026
Waktu PM2.5 (µg/m³)
04:00 WIB 681.6
15:00 WIB 79.4
Pedoman 24 jam WHO 15

Inilah arti lonjakan itu untuk setiap perjalanan. Dengan laju napas yang sama, perjalanan 45 menit pada pukul 4 pagi menghirup PM2.5 sebanyak kira-kira 6 jam 26 menit berkendara pada pukul 3 sore.

Memindahkan satu jam berkendara dari subuh ke pertengahan sore memangkas konsentrasi pada jam itu sekitar 88%. Kedua angka itu adalah hitungan kami berdasarkan dua angka BMKG (BMKG via Antara, 2026).

Dua angka dalam satu hari bukan rata-rata per jam. Angka di atas menggambarkan 17 September, bukan setiap hari. Tapi arahnya sesuai dengan yang diperingatkan BMKG dan pemerintah kota: asap berada paling rendah dan paling tebal di malam hari.

Udara malam menjebak asap setinggi pengendara

Mekanismenya adalah fisika cuaca biasa. Setelah gelap, tanah cepat kehilangan panas, dan udara yang menyentuhnya menjadi lebih dingin daripada udara di atasnya. Lapisan hangat di atas itu berfungsi seperti tutup, yang disebut inversi suhu.

Gambut yang membara terus berasap sepanjang malam, dan di bawah tutup itu asap tidak punya jalan keluar. Asap mengumpul di lapisan udara paling bawah, tempat kamu berkendara.

Setelah matahari terbit, matahari memanaskan tanah, tutupnya pecah, dan asap bercampur ke lapisan udara yang jauh lebih dalam. Asap yang sama, tersebar di udara yang lebih banyak, terbaca sebagai angka yang lebih rendah pada pertengahan sore.

SKEMA

Kenapa asap yang sama terbaca lebih tinggi saat subuh

Inversi malam dibanding pencampuran udara sore Panel kiri: pada pukul 4 pagi, tutup udara hangat berada rendah dan asap terperangkap di dekat jalan setinggi pengendara. Panel kanan: pada pukul 3 sore, tanah sudah panas, tutupnya terangkat, dan asap yang sama tersebar di lapisan udara yang dalam. tutup udara hangat (inversi) tutup terangkat oleh panas sore 04:00 asap terperangkap rendah asap sama, udara lebih banyak 15:00 Terukur pada 17 Sep: 681.6 µg/m³ Terukur pada 17 Sep: 79.4 µg/m³
1. PENDINGINAN MALAMTanah mendingin dan lapisan hangat menutup udara di atasnya.
2. ASAP MENGUMPULAsap gambut yang membara berkumpul di bawah tutup, setinggi pengendara.
3. PENCAMPURAN SIANGSinar matahari memanaskan tanah, tutupnya pecah, dan asap menyebar ke atas.
Skema ilustratif inversi suhu malam hari, bukan data lapisan batas yang terukur; dua angka yang ditampilkan adalah nilai Musi 2 dari BMKG untuk 17 September 2026 (BMKG via Antara, 2026).
Tips pengendara

Kalau kamu bisa menggeser jadwal perjalanan, geser keluar dari jam-jam sebelum subuh. Pada 17 September, udara pukul 3 sore hanya mengandung sekitar seperdelapan asap pukul 4 pagi (BMKG via Antara, 2026).

Hitung sendiri perjalanan subuhmu

Pilih waktu, masker, dan lama perjalananmu. Alat ini hanya memakai dua angka Musi 2 dan dua faktor masker yang dikutip di atas.

Perjalananmu pada 17 September, Palembang

Berdasarkan angka Musi 2 dari BMKG pada hari itu. Hanya ilustrasi.

Waktu kamu berkendara

Yang kamu pakai

45 menit

Udara yang kamu hirup: sekitar 681.6 µg/m³, 45 kali pedoman 24 jam WHO. Perjalanan ini membawa dosis partikel yang sama dengan sekitar 386 menit berkendara tanpa masker pada pukul 3 sore.

Model ilustratif: dosis adalah konsentrasi dikali menit pada laju napas yang sama, memakai angka Musi 2 dari BMKG pada 17 September (BMKG via Antara, 2026), faktor masker dari Kodros et al. (2021), dan pedoman 24 jam WHO (2021). Model ini mengasumsikan angka tersebut bertahan sepanjang perjalanan dan masker dipakai dengan benar.
Masukan yang dipakai kalkulator perjalanan
Masukan Nilai Sumber
PM2.5 pukul 04:00, 17 Sep 2026 681.6 µg/m³ BMKG via Antara
PM2.5 pukul 15:00, 17 Sep 2026 79.4 µg/m³ BMKG via Antara
Pengurangan paparan masker bedah 1.7 kali Kodros et al., 2021
Pengurangan paparan N95 dengan kebocoran 5% lebih dari 14 kali Kodros et al., 2021
Pedoman 24 jam WHO 15 µg/m³ WHO, 2021

Masker di lampu merah tidak bisa menutup selisih 8.6 kali

Perlindungan resmi Palembang untuk pengendara adalah masker gratis. Polisi lalu lintas membagikan 2,000 masker di Jalan POM IX untuk pengendara motor dan pengemudi ojol yang lewat (Palembang Independen, 2026). Sebuah asosiasi kehutanan menambah 8,000 masker lagi di lampu merah (Detik Sumsel, 2026). Tidak satu pun laporan menyebutkan jenisnya.

Itu penting karena kerapatan menentukan sebagian besar hasilnya. Dalam uji Cherrie, bahan masker itu sendiri meloloskan 0.26 sampai 29% partikel, tapi kebocoran total saat dipakai di wajah mencapai 68% (Cherrie et al., 2018). Udara mengambil jalan termudah lewat tepi-tepinya.

27x batas WHO

Yang tersisa pada pukul 4 pagi di balik masker bedah: sekitar 400 µg/m³ dari angka 681.6, memakai pengurangan 1.7 kali hasil pemodelan.

Sumber: BMKG via Antara, 2026; Kodros et al., GeoHealth, 2021; WHO, 2021

Masukkan angka subuh ke faktor masker bedah Kodros, dan sekitar 400 µg/m³ masih tersisa di balik masker (Kodros et al., 2021). Itu 27 kali pedoman 24 jam WHO, dan jauh lebih buruk daripada pengendara tanpa masker pada pukul 3 sore.

Helm membuat segel makin sulit. Chin bar dan masker berebut ruang yang sama, dan masker yang bergeser setiap kali kamu menoleh akan lebih bocor. Poin ini penalaran teknik, bukan hasil terukur, tapi arahnya sama dengan data laboratorium.

Pilihan Pengurangan paparan Udara tersisa pukul 4 pagi (17 Sep) Kelemahan utama di motor
Tanpa masker, ventilasi terbuka Tidak ada 681.6 µg/m³ Ventilasi mengalirkan udara tanpa saringan, dan tidak ada aliran saat berhenti
Masker bedah 1.7 kali (pemodelan) Sekitar 400 µg/m³ Bocor di tepi, bergeser di bawah chin bar
N95 rapat Lebih dari 14 kali pada kebocoran 5% (pemodelan) Di bawah sekitar 49 µg/m³ Harus rapat sepanjang perjalanan
Berkendara pukul 3 sore saja, tanpa masker 8.6 kali dibanding subuh 79.4 µg/m³ Hanya membantu kalau jadwalmu bisa digeser

Angka tabel: angka udara dari BMKG via Antara (2026), faktor masker dari Kodros et al. (2021), dengan udara yang tersisa di balik setiap pilihan sebagai hitungan kami dari keduanya.

Ventilasi helm tidak membantu di sini. Ventilasi ram-air butuh kecepatan maju, dan mengalirkan udara apa pun yang ada di luar. Di lampu merah alirannya berhenti, dan kamu duduk di dalam lapisan asap rendah yang sama yang dijebak malam.

Asap gambut sebagian besar berupa karbon organik halus (See et al., 2007). Jaring ventilasi dibuat untuk menahan serangga dan pasir, bukan partikel sekecil itu. Untuk jenis-jenis masker, lihat panduan kami tentang masker polusi untuk pengendara motor.

Musim kabut asap berikutnya sudah ada di kalender

Tahun-tahun kabut asap besar di Sumatra dalam catatan yang kami periksa adalah 2015, 2019, dan 2026 (Field et al., 2016; The Guardian, 2026). Itu tiga kali dalam 12 tahun, kira-kira sekali setiap empat tahun.

Ini perkiraan dasar kami sendiri dari tiga tahun tersebut, bukan prakiraan. Kalau laju itu bertahan, pengendara Palembang sebaiknya bersiap menghadapi setidaknya satu lagi musim kabut asap berbahaya sebelum 2031. Tim Field mengaitkan musim-musim ini dengan kekeringan, biasanya di tahun El Niño, dan memperkirakannya akan kembali tanpa reformasi tata guna lahan.

Asap yang sama akan mengenai paru-paru yang lebih tua. Tim Hein menemukan beban kesehatan dari asap kebakaran gambut naik seiring menuanya penduduk Indonesia (Hein et al., 2022).

Anak-anak menunjukkan tanda pertama. Pada kebakaran 2015, catatan asuransi di 203 kabupaten/kota menunjukkan lebih banyak kunjungan layanan kesehatan primer karena gangguan pernapasan di antara anak perkotaan di bawah lima tahun (Sambodo et al., 2024). Di kota motor, banyak dari anak-anak itu ikut membonceng. Tulisan kami tentang paparan polusi udara pada anak di motor membahas kursi boncengan.

Palembang tidak sendirian. Kami membahas asap yang sama dari Pontianak minggu lalu, dan kamu bisa mengecek angka hari ini di seluruh kawasan di peta kabut asap langsung untuk pengendara kami.

Pertanyaan yang sering diajukan

Kapan musim kabut asap di Indonesia?

Musim kabut asap mengikuti musim kemarau, yang biasanya berlangsung dari Juli sampai Oktober (Malay Mail, 2026). Pada 2026, angka berbahaya pertama di Palembang muncul pada 24 Agustus (ECHO via ReliefWeb, 2026).

Berapa lama kabut asap akan berlangsung pada 2026?

BMKG memperkirakan risiko kebakaran sampai awal Oktober, dan banyak daerah baru akan turun hujan pada November atau Desember (The Star, 2026; Tempo, 2026). Bersiaplah menghadapi pagi berasap sampai hujan benar-benar turun secara teratur.

Jam berapa kabut asap paling parah di Palembang?

Sebelum matahari terbit, berdasarkan angka yang kami punya. Pada 17 September, stasiun Musi 2 mencatat 681.6 µg/m³ pada pukul 4 pagi dan 79.4 pada pukul 3 sore (BMKG via Antara, 2026).

Apakah sekarang sedang musim kabut asap?

Kalau kamu membaca ini pada September atau awal Oktober 2026, ya. Cek angka langsung sebelum berkendara, karena tingkatnya berubah dari jam ke jam.

Apakah masker bedah melindungi saya di motor?

Sebagian. Sebuah model menempatkan pengurangannya pada 1.7 kali, yang pada pukul 4 pagi masih menyisakan sekitar 400 µg/m³ (Kodros et al., 2021). Kerapatan paling menentukan, dan helm membuat kerapatan yang baik lebih sulit dicapai.

Yang perlu dilakukan minggu ini

Lima langkah untuk musim kabut asap di Palembang
  1. Cek jamnya, bukan hanya harinya. Lihat angka PM2.5 langsung sebelum berkendara sebelum subuh, karena angka subuh bisa berkali-kali lipat angka sore.
  2. Pindahkan perjalanan yang bisa dipindah. Urusan harian dan antar-jemput sekolah yang digeser ke pertengahan sore memangkas asap di setiap tarikan napas.
  3. Tutup ventilasi saat berhenti. Di lampu merah, ventilasimu hanya menarik lapisan asap setinggi jalan.
  4. Ganti masker gratis dengan yang lebih baik kalau kamu tetap memakainya. N95 yang rapat jauh lebih efektif daripada masker longgar, asalkan tetap rapat di balik helm.
  5. Saring udara di dalam helm. Kipas Easi Breezi mendorong udara melewati filter H11 HEPA yang menahan 95% PM2.5, di lampu merah maupun saat melaju. Alat ini mengambil daya dari motor, tanpa baterai yang perlu diisi sebelum berangkat pukul 4 pagi.

Musim ini akan berakhir saat hujan datang. Sampai saat itu, jam dan udara di depan wajahmu adalah dua hal yang bisa kamu kendalikan.

Sumber

  1. BMKG Stasiun Klimatologi Sumsel, via Antara Sumsel (2026). Kualitas udara di Palembang masuk kategori berbahaya akibat asap. sumsel.antaranews.com
  2. World Health Organization (2021). WHO global air quality guidelines. who.int
  3. Cherrie JW, Apsley A, Cowie H, et al. (2018). Effectiveness of face masks used to protect Beijing residents against particulate air pollution. Occupational and Environmental Medicine 75. doi:10.1136/oemed-2017-104765
  4. Indonesian Ministry of Health, via AFP and Malay Mail (2026). Respiratory problems climb past 170,000 cases in haze-hit Indonesia. malaymail.com
  5. Haryanto B, Kurniasari F, Trihandini I, et al. (2026). Climate change adaptation to smoke haze for improved child health in Southeast Asia: analysis situation in Palembang, Indonesia. Annals of Global Health 92. doi:10.5334/aogh.5211
  6. See SW, Balasubramanian R, Rianawati E, Karthikeyan S, Streets DG (2007). Characterization and source apportionment of particulate matter ≤2.5 µm in Sumatra, Indonesia, during a recent peat fire episode. Environmental Science & Technology 41. doi:10.1021/es061943k
  7. Field RD, van der Werf GR, Fanin T, et al. (2016). Indonesian fire activity and smoke pollution in 2015 show persistent nonlinear sensitivity to El Niño-induced drought. PNAS 113. doi:10.1073/pnas.1524888113
  8. Crippa P, Castruccio S, Archer-Nicholls S, et al. (2016). Population exposure to hazardous air quality due to the 2015 fires in Equatorial Asia. Scientific Reports 6. doi:10.1038/srep37074
  9. Hein L, Spadaro JV, Ostro B, et al. (2022). The health impacts of Indonesian peatland fires. Environmental Health 21. doi:10.1186/s12940-022-00872-w
  10. Kodros JK, O'Dell K, Samet JM, et al. (2021). Quantifying the health benefits of face masks and respirators to mitigate exposure to severe air pollution. GeoHealth 5. doi:10.1029/2021gh000482
  11. ECHO Daily Flash, via ReliefWeb (2026). Indonesia forest fires and haze, Sumatra and Kalimantan, 24 August 2026. reliefweb.int
  12. The Star (2026). BMKG forecast of forest fire risk into early October, 23 September 2026. thestar.com.my
  13. Tempo English (2026). BMKG 2026/27 rainy season outlook, 23 September 2026. en.tempo.co
  14. The Guardian (2026). Reporting on the 2026 Borneo and Sumatra fires, 21 September 2026. theguardian.com
  15. detikSumbagsel (2026). Kasus ISPA di Palembang tembus 9.313 dalam 20 hari. detik.com
  16. Pemkot Palembang, via Antara Sumsel (2026). Pemkot Palembang terapkan belajar daring dampak kabut asap. sumsel.antaranews.com
  17. Ditlantas Polda Sumsel, via Palembang Independen (2026). Ditlantas Polda Sumsel bagi-bagi masker ke pengendara. palembangindependen.com
  18. Detik Sumsel (2026). Kabut asap selimuti Palembang, 8000 masker dibagikan ke pengendara di lampu merah. detiksumsel.com
  19. Sambodo NP, Pradhan M, Sparrow R, van Doorslaer E (2024). When the smoke gets in your lungs: short-term effects of Indonesia's 2015 forest fires on health care use. Environmental Health 23. doi:10.1186/s12940-024-01079-x

Ditulis oleh Ash, insinyur mesin dan pendiri Easi Breezi, yang sedang membangun sistem filtrasi HEPA aktif untuk helm motor (paten tertunda). Tinggal di antara Hong Kong dan Bali, berkendara setiap hari di lalu lintas yang dibahas blog ini.