Kapan Kabut Asap Hilang? Musim 2026 Terlambat, dan Satu Kali Hujan Tidak Akan Mengakhirinya

Motorcycle rider on a wet road after rain with haze still hanging between palm trees, when will the haze be gone
Jawaban singkat

Untuk sebagian besar Sumatra dan Kalimantan, tidak sebelum musim hujan dimulai, dan BMKG bilang tahun ini musim hujan datang lebih lambat dari biasanya di 61.08% wilayah Indonesia (BMKG, 2026). Satu kali hujan juga tidak akan mengakhirinya. Dalam uji lab, gambut yang membara baru padam dengan hujan sekitar 4 mm per jam (Lin et al., 2020).

Pagi setelah hujan deras pertama, jalan masih basah dan langit biru pucat. Kamu buka visor. Sore harinya, saat pulang naik motor, bau asap sudah kembali.

Itulah pertanyaan yang terus diketik para pengendara: kapan kabut asap hilang? Tidak ada lembaga yang menerbitkan tanggal berakhirnya.

Yang mereka terbitkan adalah prakiraan hujan, dan fisika kebakaran gambut memberi tahu cara membacanya. Tulisan ini menjawab tujuh pertanyaan yang paling sering ditanyakan, lengkap dengan studi di balik setiap jawaban.

Poin penting

  • BMKG memperkirakan musim hujan 2026/2027 dimulai lebih lambat dari biasanya di 529 zona musim Indonesia, atau 61.08% wilayahnya, dengan puncak di sebagian besar Sumatra dan Kalimantan pada Desember (BMKG, 2026).
  • Dalam uji lab, gambut yang membara baru padam dengan hujan sekitar 4 mm per jam atau lebih, jadi hujan ringan yang terus-menerus tidak bisa memadamkannya (Lin et al., 2020).
  • Air tanah gambut di Kalimantan Tengah turun 1.0 sampai 1.5 m pada 1997/98, 2015 dan 2019, itulah sebabnya api terus menyala di bawah permukaan yang basah (Sulaiman et al., 2023).
  • El Niño menaikkan risiko model terjadinya tahun kebakaran sebesar 1997 atau 2015 di Kalimantan Indonesia hingga 2.7 kali lipat, tetapi risiko itu ada di setiap fase ENSO (Lam et al., 2026).

Pernah separah ini sebelumnya? Ya, pada 1997 dan 2015

Menurut catatan jarak pandang bandara di Sumatra dan Kalimantan, 2015 berada di urutan setelah 1997, dan sejajar dengan 1991 dan 1994, sebagai salah satu tahun asap terburuk yang pernah tercatat. Kepulan asap tahun itu bertahan di troposfer atas selama 2 bulan (Field et al., 2016).

69 juta orang

terus-menerus terpapar udara tidak sehat selama kebakaran 2015, dengan perkiraan 11,880 kematian berlebih akibat paparan jangka pendek.

Sumber: Crippa et al., Scientific Reports, 2016

Di beberapa tempat, 2026 sudah masuk skala daftar itu. Pemantau kebakaran kementerian kehutanan mencatat lebih dari 9,000 titik panas pada Agustus, Agustus tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 2015. Pada 15 September, lima wilayah Singapura mencatat udara tidak sehat untuk pertama kalinya sejak September 2019 (Kompas, 2026).

Dampak kesehatannya juga terus naik. Kementerian Kesehatan Indonesia mencatat 174,694 kasus infeksi saluran pernapasan akut di daerah terdampak kabut asap antara Agustus dan 21 September. Lebih dari 40,000 di antaranya balita (Kementerian Kesehatan via The Jakarta Post, 2026).

Kasus infeksi saluran pernapasan di provinsi berkabut asap Indonesia, 2026

Kasus kumulatif yang dihitung sejak Agustus, sesuai laporan Kementerian Kesehatan.

1 September
50,891
9 September
113,336
21 September
174,694
Kasus infeksi saluran pernapasan akut di provinsi Indonesia yang terdampak kabut asap naik dari 50,891 pada 1 September menjadi 174,694 pada 21 September 2026, dihitung secara kumulatif sejak Agustus (Kementerian Kesehatan via The Jakarta Post, 2026).
Kasus kumulatif infeksi saluran pernapasan akut, provinsi berkabut asap di Indonesia, 2026
Tanggal Kasus
1 September 50,891
9 September 113,336
21 September 174,694

Kalau kamu berkendara di Sumatra, panduan musim kabut asap Palembang kami menunjukkan seberapa jauh lebih buruk udara subuh dibanding udara sore.

Kapan kabut asap hilang tahun ini? Tidak sebelum hujan yang terlambat

Untuk sebagian besar Sumatra dan Kalimantan, asap kemungkinan bertahan sampai musim hujan benar-benar berjalan. Tahun ini musim itu terlambat.

Pada 22 September, BMKG menyatakan musim hujan 2026/2027 akan dimulai lebih lambat dari biasanya di 529 zona musim, yang mencakup 61.08% wilayah Indonesia. Hanya 11 zona yang mulai lebih awal (BMKG, 2026).

61.08%wilayah Indonesia mendapat musim hujan lebih lambat dari biasanya
529zona musim terlambat, dibanding 11 yang lebih awal
131hari tanpa hujan di Bantul, deret kering terpanjang yang dilaporkan BMKG

BMKG menemukan stasiun dengan lebih dari 60 hari tanpa hujan di 25 provinsi. Deret terpanjang, 131 hari, tercatat di Bantul (BMKG, 2026).

Waktu yang diberikan BMKG untuk provinsi rawan kebakaran:

  • Awal musim di November untuk sebagian Sumatra dan Kalimantan. Awal musim di November mencakup porsi wilayah terbesar, 24.66% (BMKG, 2026).
  • Puncak di Desember untuk sebagian besar Sumatra dan sebagian besar Kalimantan (BMKG, 2026).
  • Puncak di Januari 2027 untuk Riau bagian selatan, sebagian Kalimantan Barat dan sebagian besar Kalimantan Tengah (BMKG, 2026).

BMKG juga meminta layanan kesehatan bersiap menghadapi udara tidak sehat yang berkepanjangan karena musim hujan terlambat. BMKG menandai September dan Oktober sebagai bulan yang perlu diwaspadai untuk kebakaran (BMKG, 2026).

Singapura dan Malaysia kebagian asap yang terbawa angin. Udara mereka baru bersih saat provinsi sumber asap mendapat hujan yang berkelanjutan atau arah angin berbalik, jadi prakiraan musim hujan yang terlambat ini berlaku juga bagi mereka.

Bukankah hujan deras pertama akan membersihkannya? Hanya kalau turunnya cukup deras

Mitos

Kabut asap berakhir di hari hujan turun.

Fakta

Hujan membersihkan asap dari udara selama beberapa jam. Gambut di bawahnya baru padam dengan hujan sekitar 4 mm per jam, yang turun cukup lama (Lin et al., 2020).

Ada dua angka "4" yang berbeda dalam riset ini, dan keduanya gampang tertukar.

  • 4 mm per hari adalah batas kekeringan. Kalau di bawah angka itu selama berminggu-minggu, kebakaran jadi tak terkendali (Field et al., 2016).
  • 4 mm per jam adalah intensitas hujan yang memadamkan gambut membara di lab (Lin et al., 2020).

Hari gerimis bisa menghasilkan total 4 mm tanpa pernah mencapai 4 mm dalam satu jam. Kelihatannya hujan. Bagi gambut, itu hampir tidak ada artinya.

Rumus hasil penyesuaian Lin menunjukkan berapa lama hujan harus berlangsung. Menurut hitungan kami dari rumus itu, hujan 4 mm per jam butuh sekitar 6.8 jam dan total 27 mm. Pada 50 mm per jam, butuh sekitar 22 menit dan 18.5 mm (Lin et al., 2020). Coba intensitas lain di bawah ini.

Cek hujan: berapa lama hujan harus turun untuk memadamkan bara gambut?

Geser slider ke intensitas hujan tertentu. Hasilnya memakai rumus lab dari Lin et al. (2020) untuk 15 cm lapisan gambut teratas.

4 mm/jam

Panjang bar: jam hujan stabil yang dibutuhkan, dengan skala 7 jam.

Pada 4 mm per jam, bara gambut di lab butuh hujan stabil sekitar 6.8 jam, dengan total sekitar 27 mm.

Ilustrasi. Dalam uji lab, gambut yang membara hanya padam dengan hujan sekitar 4 mm per jam atau lebih, dan waktu yang dibutuhkan mengikuti log10(menit) = 3.3 dikurangi 1.15 kali log10(mm per jam) (Lin et al., 2020). Gambut yang lebih dalam butuh waktu lebih lama.
Hujan yang dibutuhkan untuk memadamkan gambut membara, dari rumus Lin et al. (2020)
Intensitas hujan (mm/jam) Waktu yang dibutuhkan Total hujan (mm)
Di bawah 4 Tidak padam t/a
4 6.8 jam 27
10 2.4 jam 23.5
50 22 menit 18.5
Tips pengendara

Cek prakiraan hujan per jam, bukan peluang hujan harian. Peluang 90% hujan ringan tidak akan mengakhiri kabut asap gambut. Hujan deras beberapa jam mungkin bisa.

Kenapa kabut asap kembali setelah hujan? Apinya ada di bawah tanah

Hujan melakukan dua tugas yang berbeda. Hujan membersihkan asap dari udara, itulah sebabnya langit terlihat bersih sejam kemudian. Hujan baru menghentikan asap di sumbernya kalau membasahi gambut cukup dalam.

Di tahun-tahun buruk, sumber itu berada jauh di bawah. Air tanah gambut turun 1.0 sampai 1.5 m pada 1997/98, 2015 dan 2019 (Sulaiman et al., 2023). Uji lab yang menemukan batas 4 mm per jam hanya mencakup 15 cm teratas (Lin et al., 2020).

Jadi hujan sebentar bisa membasahi permukaan sementara gambut kering di bawahnya terus membara. Saat hujan berhenti, asap itu naik lagi.

SKEMA

Kenapa hujan sebentar membersihkan langit, tapi tidak sumbernya

Tampak samping hujan di atas kebakaran gambut Hujan turun menembus udara berasap dan membasahi lapisan atas gambut. Di bawahnya, gambut kering di atas muka air tanah yang turun terus membara, dan asap naik lagi begitu hujan berhenti. Hujan membersihkan udara selama beberapa jam Setelah hujan: asap naik lagi Lapisan permukaan basah (uji lab mencakup 15 cm teratas) Muka air tanah normal Gambut kering terus membara Air tanah di tahun buruk: 1.0 sampai 1.5 m lebih rendah
1 · UDARAHujan membersihkan partikel asap dari udara, jadi langit bersih dalam beberapa jam.
2 · PERMUKAANLapisan atas gambut baru padam dengan hujan sekitar 4 mm per jam, yang turun selama berjam-jam (Lin et al., 2020).
3 · KEDALAMANGambut di atas muka air tanah yang turun 1.0 sampai 1.5 m tetap kering dan terus terbakar sampai hujan musiman mengisinya kembali (Sulaiman et al., 2023).
Skema, tidak sesuai skala. Hujan membersihkan udara dengan cepat, tetapi gambut yang membara butuh hujan sekitar 4 mm per jam untuk padam di permukaan (Lin et al., 2020), dan gambut dalam tetap kering sampai muka air tanah yang turun 1.0 sampai 1.5 m di tahun buruk pulih kembali (Sulaiman et al., 2023).

Yang kamu lihat vs yang sebenarnya terjadi

Kabut asap bisa menipu mata. Berikut kesan yang diberikan langit, berdampingan dengan temuan riset.

Yang kamu lihat Yang sebenarnya terjadi
Langit biru setelah hujan deras Hujan membersihkan asap dari udara selama beberapa jam. Gambut di bawahnya bisa terus membara (Lin et al., 2020).
Hari hujan di prakiraan cuaca Satu hari bisa membawa total 4 mm tanpa pernah mencapai 4 mm dalam satu jam. Dalam uji lab, gambut yang membara baru padam di sekitar 4 mm per jam.
Tanah basah setelah badai Di tahun kebakaran terparah, air tanah gambut berada 1.0 sampai 1.5 m lebih rendah, jadi gambut kering bisa terbakar jauh di bawah permukaan yang basah (Sulaiman et al., 2023).
Musim kabut asap yang berakhir di Oktober BMKG memperkirakan musim hujan terlambat di 61.08% wilayah Indonesia, dengan puncak Desember untuk sebagian besar Sumatra dan Kalimantan (BMKG, 2026).

Kamu tidak bisa membuat hujan turun lebih deras. Tapi kamu bisa menentukan udara apa yang masuk ke paru-parumu dalam perjalanan pulang.

Pembersih udara helm clip-on Easi Breezi

Berkendara dengan udara tersaring

Menyaring PM2.5 kabut asap di setiap perjalanan

Easi Breezi dipasang di skuter atau motor kamu dan mengalirkan udara yang disaring HEPA H11 ke dalam helm. Tenaganya dari motor, tanpa baterai, tanpa perlu dicas.

Lihat Easi BreeziCara kerjanya

Kenapa 2026 lebih lambat dari biasanya? Dua samudra mengeringkan kawasan ini

Dua pola samudra mengeringkan kawasan ini secara bersamaan. BMKG mengukur anomali suhu permukaan laut Niño3.4 di Pasifik sebesar +2.83 pada akhir Agustus, yang disebutnya El Niño sangat kuat. Indian Ocean Dipole tercatat +0.376 pada Agustus dan bergerak ke arah positif (BMKG, 2026).

Climate Prediction Center Amerika Serikat sependapat.

Pada 10 September, lembaga itu memberi peluang lebih dari 90% untuk El Niño sangat kuat sepanjang musim dingin belahan bumi utara. Lembaga itu memberi peluang 75% bahwa Oktober sampai Desember akan bersejarah, lebih kuat dari peristiwa mana pun sejak 1950 (NOAA CPC, 2026). Curah hujan di atas Indonesia tetap tertekan.

Kombinasi itu penting. Sepanjang 1900 sampai 2019, hujan dan cadangan air di Benua Maritim turun paling jauh saat El Niño dan Indian Ocean Dipole positif terjadi bersamaan (Xiao et al., 2022).

Bulan-bulan kering memberi makan api. Begitu hujan tetap di bawah 4 mm per hari dalam waktu lama, aktivitas kebakaran naik tajam, dan kepekaan itu tampaknya makin besar di Kalimantan (Field et al., 2016).

Apakah akan terjadi lagi tahun depan? Bisa, di tahun mana pun

Musim yang terlambat dan penuh asap paling mungkin terjadi di tahun El Niño, tetapi tidak terbatas pada tahun seperti itu.

Dalam sekumpulan besar simulasi iklim, El Niño menaikkan risiko tahun kebakaran sebesar 1997 atau 2015 di Kalimantan Indonesia hingga 2.7 kali lipat. Simulasi yang sama menemukan risiko itu di setiap fase ENSO (Lam et al., 2026).

Tahun-tahun dengan kombinasi El Niño dan Indian Ocean Dipole positif makin sering terjadi sejak 1965. Namun model iklim tidak memproyeksikan kombinasi itu bertambah di bawah pemanasan parah, yang menunjukkan ayunan alami, bukan kenaikan yang terus-menerus (Xiao et al., 2022).

Jadi jawaban jujurnya tidak merata: ada tahun yang bersih, ada tahun seperti tahun ini, tanpa jaminan ke arah mana pun. Untuk gambaran jangka panjang lintas beberapa musim, baca apakah kabut asap makin parah setiap tahun.

Saat hujan datang, hujan itu bekerja

Inilah bagian prakiraan yang layak kamu pegang. BMKG memperkirakan musim hujan dimulai pada November di sebagian Sumatra dan Kalimantan, dan mencapai puncak pada Desember di sebagian besar kedua pulau itu (BMKG, 2026).

Saat hujan sekitar 4 mm per jam terus turun selama beberapa jam, gambut yang membara pun padam (Lin et al., 2020). Asap berhenti di sumbernya, dan udara di atas Singapura dan Malaysia ikut bersih.

Sampai saat itu, hari-hari di antara hujan adalah hari yang perlu kamu rencanakan.

Apa yang sebaiknya dilakukan pengendara sampai kabut asap hilang?

Kementerian Kesehatan Indonesia memberi tiga saran: kurangi aktivitas di luar ruangan saat udara memburuk, pakai masker, dan minum cukup air (Kementerian Kesehatan via The Jakarta Post, 2026). Pengendara tidak selalu bisa tinggal di dalam ruangan, jadi masker dan pemilihan waktu yang paling berperan.

Minggu-minggu yang perlu diwaspadai adalah minggu peralihan. Setelah hujan sebentar, langit terlihat bersih, jadi visor dibuka dan masker dilepas. Gambutnya masih terbakar, dan asap bisa kembali saat kamu pulang.

Cek angka langsung sebelum kamu percaya pada langit. Peta kabut asap langsung untuk pengendara kami menampilkan PM2.5 terkini di seluruh kawasan, dan panduan kabut asap Pontianak menjelaskan seperti apa hari berbahaya jika kamu di atas motor.

Apa yang sebenarnya diukur oleh studi-studi ini

Kebanyakan jawaban soal kabut asap di internet menyebut satu bulan tertentu. Riset memberi sesuatu yang lebih berguna: kondisi fisik yang harus terjadi sebelum asap berhenti. Empat studi membahasnya.

Lin dan rekan-rekannya membuat gambut membara di lab, lalu menyiraminya dengan hujan pada intensitas terkontrol. Di bawah kira-kira 4 mm per jam, api terus menyala. Kesimpulan mereka lugas: hujan ringan yang terus-menerus tidak bisa memadamkannya (Lin et al., 2020).

Mereka juga menyusun rumus untuk berapa lama hujan harus berlangsung. Makin deras hujannya, makin singkat waktunya. Bahkan di bawah hujan sangat lebat, total yang dibutuhkan tidak pernah turun di bawah sekitar 13 mm (Lin et al., 2020).

Sulaiman dan rekan-rekannya melihat ke bawah tanah. Mereka mencatat air tanah gambut di Kalimantan Tengah selama 27 tahun. Di tahun-tahun kebakaran besar 1997/98, 2015 dan 2019, air tanah turun 1.0 sampai 1.5 m (Sulaiman et al., 2023). Gambut kering sedalam itu bisa terbakar jauh di bawah permukaan yang dibasahi hujan sebentar.

Field dan rekan-rekannya melihat ujung yang lain: apa yang memicu kebakaran tak terkendali. Kebakaran di Indonesia naik tajam begitu hujan tetap di bawah 4 mm per hari dalam waktu lama (Field et al., 2016).

Lam dan rekan-rekannya menjalankan sekumpulan besar simulasi iklim untuk Kalimantan. El Niño membuat tahun kebakaran sebesar 1997 atau 2015 menjadi 2.7 kali lebih mungkin, tetapi tahun seperti itu bisa terjadi di fase mana pun (Lam et al., 2026).

Riset di balik artikel ini

Studi peer-review yang menjadi dasar tulisan ini. Setiap kartu menjelaskan apa yang diukur, apa yang ditemukan, dan apa yang tidak bisa dijelaskannya.

Bisakah hujan memadamkan kebakaran gambut yang membara?

Lin et al. (2020) · Science of the Total Environment

Yang mereka ukur
Eksperimen lab yang menyirami gambut membara di lapisan dangkal, sampai kedalaman 15 cm, dengan berbagai intensitas hujan.
Temuan mereka
Intensitas hujan minimum yang memadamkan api kira-kira 4 mm per jam. Total hujan yang dibutuhkan turun menuju minimum 13 mm di bawah hujan sangat lebat.
Yang tidak bisa dijelaskan
Skala lab dan hanya 15 cm teratas. Gambut dalam dan muka air tanah nyata tidak dimodelkan.
Baca studinya (DOI)

Kebakaran dan asap Indonesia pada 2015 serta kekeringan El Niño

Field et al. (2016) · PNAS

Yang mereka ukur
Catatan satelit tentang api, asap dan karbon monoksida, jarak pandang bandara di Sumatra dan Kalimantan, serta curah hujan musim kemarau dari satelit dan alat ukur hujan.
Temuan mereka
Kebakaran merespons tajam begitu hujan tetap di bawah 4 mm per hari dalam waktu lama, dan kepekaan itu tampaknya makin besar di Kalimantan. Kepulan asap 2015 bertahan 2 bulan.
Yang tidak bisa dijelaskan
Studi ini menjelaskan kapan kebakaran jadi tak terkendali, bukan tanggal berakhirnya satu musim tertentu.
Baca studinya (DOI)

Air tanah gambut sebagai peringatan El Niño

Sulaiman et al. (2023) · Scientific Reports

Yang mereka ukur
Pembacaan muka air tanah selama 27 tahun di hutan gambut Kalimantan Tengah, dibandingkan dengan catatan El Niño dan Indian Ocean Dipole.
Temuan mereka
Air tanah turun tajam sebesar 1.0 sampai 1.5 m pada 1997/98, 2015 dan tahun IOD positif 2019.
Yang tidak bisa dijelaskan
Hanya lokasi di Kalimantan Tengah. Studi ini tidak mengukur berapa lama gambut basah kembali setelah hujan datang.
Baca studinya (DOI)

Kebakaran besar di Kalimantan pada setiap fase ENSO

Lam et al. (2026) · npj Natural Hazards

Yang mereka ukur
Sekumpulan besar simulasi iklim global, dipakai untuk memperkirakan risiko tahun kebakaran separah 1997 dan 2015 di Kalimantan Indonesia.
Temuan mereka
El Niño menaikkan risiko itu hingga 2.7 kali lipat, tetapi risiko itu tetap ada apa pun fase ENSO-nya.
Yang tidak bisa dijelaskan
Perkiraan risiko dari model, bukan prakiraan untuk musim ini.
Baca studinya (DOI)

Siapa yang menghirup asap 2015

Crippa et al. (2016) · Scientific Reports

Yang mereka ukur
Model cuaca dan kimia beresolusi tinggi dari asap kebakaran musim gugur 2015, dicek dengan pembacaan satelit dan darat.
Temuan mereka
69 juta orang terus-menerus terpapar udara tidak sehat, dengan perkiraan 11,880 kematian berlebih akibat paparan jangka pendek.
Yang tidak bisa dijelaskan
Paparan hasil model. Angka kematian diperkirakan dari kurva risiko, bukan dihitung langsung.
Baca studinya (DOI)

Pertanyaan yang sering diajukan

Kapan kabut asap akan hilang?

Saat musim hujan sudah berjalan di provinsi-provinsi rawan kebakaran. Pada 2026 BMKG memperkirakan musim itu terlambat, dengan awal November di sebagian Sumatra dan Kalimantan dan puncak Desember di sebagian besar kedua pulau itu (BMKG, 2026).

Berapa lama kabut asap akan berlangsung?

Tidak ada lembaga yang memberi tanggal berakhirnya. Asap bertahan sampai cukup banyak hujan deras turun untuk membasahi gambut, yang menurut prakiraan BMKG tahun ini datang lebih lambat dari biasanya di 61.08% wilayah Indonesia (BMKG, 2026).

Apakah kabut asap hilang setelah hujan?

Sering kali hanya beberapa jam. Hujan membersihkan udara, tetapi hujan ringan tidak bisa memadamkan gambut yang membara, yang dalam uji lab butuh sekitar 4 mm per jam (Lin et al., 2020).

Kapan kabut asap berakhir di Singapura dan Malaysia?

Kabut asap mereka terbawa dari Sumatra dan Kalimantan, jadi baru berakhir saat kebakaran di sana diredam hujan yang berkelanjutan atau arah angin berubah. Prakiraan Indonesia yang terlambat itulah yang perlu dipantau.

Apakah kabut asap akan makin parah sebelum membaik?

Bisa. BMKG menandai September dan Oktober sebagai bulan rawan kebakaran, dan 556 zona yang mencakup 61.91% wilayah Indonesia masih dalam musim kemarau pada 22 September (BMKG, 2026).

Yang bisa dilakukan minggu ini

Empat langkah selagi hujan terlambat
  1. Baca prakiraan hujan per jam. Cari hujan 4 mm per jam atau lebih yang berlangsung beberapa jam (Lin et al., 2020). Gerimis tidak dihitung.
  2. Jangan percaya langit cerah setelah hujan sebentar. Cek angka PM2.5 langsung sebelum kamu membuka visor.
  3. Geser perjalanan terberatmu. Kalau bisa, pindahkan perjalanan terpanjang ke jam-jam saat angka di daerahmu paling rendah.
  4. Saring udara di dalam helmmu. Unit Easi Breezi bertenaga motor dan mengalirkan udara ke helm melalui filter HEPA H11 yang menahan 95% PM2.5, apa pun kondisi langitnya.

Pembaruan musiman BMKG berikutnya akan menunjukkan apakah hujan datang sesuai prakiraan. Sampai saat itu, bersiaplah menghadapi asap di hari-hari peralihan.

Sumber

  1. BMKG (2026). El Niño sangat kuat sedang terjadi, musim hujan 2026/2027 diprediksi datang lebih lambat. Siaran pers, 22 September 2026. bmkg.go.id
  2. Lin S, Cheung YK, Xiao Y, Huang X (2020). Can rain suppress smoldering peat fire? Science of the Total Environment 727:138468. doi:10.1016/j.scitotenv.2020.138468
  3. Sulaiman A, Osaki M, Takahashi H, et al. (2023). Peatland groundwater level in the Indonesian maritime continent as an alert for El Niño and moderate positive Indian Ocean dipole events. Scientific Reports 13:939. doi:10.1038/s41598-023-27393-x
  4. Lam T, Catto JL, Kay G, Dunstone N, Barciela R, Harper AB (2026). Major fires in Indonesian Borneo are possible under all ENSO phases. npj Natural Hazards 3:46. doi:10.1038/s44304-026-00209-4
  5. Field RD, van der Werf GR, Fanin T, et al. (2016). Indonesian fire activity and smoke pollution in 2015 show persistent nonlinear sensitivity to El Niño-induced drought. PNAS 113(33):9204. doi:10.1073/pnas.1524888113
  6. Crippa P, Castruccio S, Archer-Nicholls S, et al. (2016). Population exposure to hazardous air quality due to the 2015 fires in Equatorial Asia. Scientific Reports 6:37074. doi:10.1038/srep37074
  7. NOAA Climate Prediction Center (2026). ENSO diagnostic discussion, 10 September 2026. cpc.ncep.noaa.gov
  8. Xiao HM, Lo MH, Yu JY (2022). The increased frequency of combined El Niño and positive IOD events since 1965s and its impacts on maritime continent hydroclimates. Scientific Reports 12:7532. doi:10.1038/s41598-022-11663-1
  9. Aldika AB (2026). Indonesian fire haze worsens air quality in Singapore. Kompas, 22 September 2026, melaporkan data NEA Singapura dan SiPongi. kompas.com
  10. Kementerian Kesehatan Indonesia, via The Jakarta Post (2026). Respiratory problems climb past 170,000 cases in Indonesia. 24 September 2026. thejakartapost.com

Ditulis oleh Ash, insinyur mesin dan pendiri Easi Breezi, yang sedang membangun sistem filtrasi HEPA aktif untuk helm motor (paten tertunda). Tinggal di antara Hong Kong dan Bali, dan berkendara setiap hari di lalu lintas yang dibahas blog ini.